Media

6 kesalahan umum developer
By Maria Yuniar - 23 July 2018
4 min read 135 Views

Setelah melalui perjuangan coding berjam-jam, sering kurang tidur, banyak suka duka atau bahkan frustasi, akhirnya kamu dapat merilis aplikasi ke pasaran. Namun, setelah beberapa pekan, kamu baru menyadari bahwa aplikasi yang telah dirilis tidak sesuai dengan harapan. Sebab, hanya beberapa orang yang mengunduhnya dan kamu ternyata tidak mendapatkan saran yang bermanfaat dari pengguna aplikasi.

Banyak developer yang mengalami kasus tersebut. Agar aplikasi buatanmu dapat dimonetisasi dengan lancar, sebaiknya hindari kesalahan-kesalahan yang umum dilakukan oleh developer berikut ini.

 

Tak ada perencanaan matang

Tidak membuat perencanaan berarti merencanakan kegagalan. Kesalahan umum yang sering dilakukan oleh developer pemula adalah langsung mengembangkan aplikasi tanpa perencanaan awal yang matang seperti dokumen persyaratan spesifikasi perangkat lunak, rencana proyek, rencana bisnis, dan desain sistem.

 

Salah pilih metode pengembangan

Ketika sudah siap memulai proses pengembangan, kamu akan dihadapkan pada satu tugas menantang: memilih aplikasi native (dikembangkan dengan bahasa pemrograman yang spesifik untuk platform tertentu) atau hybrid (penggabungan aplikasi native dan web).

Mengembangkan aplikasi native mungkin lebih mahal, tapi biasanya menghasilkan pengalaman pengguna (UX) yang bagus. Di sisi lain, mengembangkan aplikasi hybrid umumnya lebih cepat dan biasanya memberikan pengalaman pengguna yang sama bagusnya di semua platform.

Meskipun aplikasi native biasanya dianggap lebih baik, aplikasi jenis ini tidak bisa selalu menjadi pilihan yang tepat untuk perusahaan Anda. Dengan demikian, Anda harus mengetahui kebutuhan dan melakukan riset untuk memastikan Anda tahu metode pengembangan aplikasi apa yang Anda inginkan. Jadi, jangan sampai salah pilih metode pengembangan.

 

Membuat terlalu banyak fitur

Kesalahan umum lain yang sering dilakukan developer adalah gagal menentukan fitur aplikasi. Menambahkan lebih banyak fitur selalu terdengar menarik. Ternyata, ini adalah kesalahpahaman umum. Faktanya, menambahkan terlalu banyak fitur dapat menjadi salah satu alasan buruknya kinerja sebuah aplikasi mobile.

Jika aplikasimu diisi dengan 20 fitur atau lebih, pengalaman atau user experience (UX) yang cepat, nyaman, dan simple cenderung sulit untuk didapatkan. Menambahkan lebih banyak fitur dapat memperlambat aplikasi pada perangkat keluaran lama. Akibatnya, aplikasimu berpotensi mengalami crashing.

Sebaiknya, fokus pada beberapa fungsi inti yang diperlukan aplikasi untuk memuaskan pengguna. Jika kamu memiliki waktu dan uang ekstra, gunakanlah untuk meningkatkan keterlibatan pengguna dengan menyempurnakan fitur inti tersebut, daripada menambahkan fitur baru.

 

Salah pilih platform

IOS, Android, Windows: mana yang harus Anda pilih? Secara statistik, iOS mungkin populer di AS, namun Android memimpin secara global. Karena stereotip ini, developer memilih untuk membuat aplikasi iOS hanya karena mereka percaya monetisasi akan jauh lebih mudah. Meskipun mungkin benar, ini tidak universal.

Untuk rilis pertama, fokuskan aplikasi hanya untuk satu operating system saja. Lihat mayoritas target user: apakah mereka lebih banyak menggunakan iOS atau Android? Dengan memfokuskan pengembangan untuk satu OS, maka aplikasi pun dapat diselesaikan dengan optimal.

 

Lewatkan pengujian

Banyak developer yang terburu-buru menyelesaikan pengembangan aplikasi. Mereka memilih mengambil jalan pintas saat pengujian. Inilah membuat mereka gagal menemukan celah, yang benar-benar bisa merusak aplikasi mobile di masa mendatang.

Berdasarkan survei yang dipublikasikan Computer Weekly, hampir setengah, atau 46 persen dari pengguna akan meninggalkan sebuah aplikasi jika gagal loading dalam tiga detik atau kurang.

Satu-satunya cara untuk menghindari hal ini adalah dengan memanfaatkan pengujian performa dan membawanya dalam proses pengembangan sesegera mungkin. Kamu harus menentukan kinerja seperti yang ingin dicapai sebelum meluncurkan aplikasi. Ketahui sumber dari kinerja tersebut dan pastikan masalah yang ditemukan mudah diperbaiki.

 

Kurang pemasaran

Ketika berbicara tentang rencana pemasaran, jumlah unduhan biasanya muncul di pikiranmu. Namun, perlu diingat bahwa banyaknya jumlah unduhan tidak menjamin aplikasimu akan sukses di toko aplikasi.

Luangkan waktu untuk mengenal area berbeda tempat pengguna menemukan produkmu. Toko aplikasi bisa menjadi metode utama, tapi banyak penerbit aplikasi yang mengabaikan relevansi judul, deskripsi, dan kata kunci aplikasi mereka.

Gunakan aset yang ada seperti daftar email, halaman Facebook, dan akun Twitter untuk kegiatan pemasaran. Jangan lupa untuk secara proaktif memperbaiki judul, kata kunci, deskripsi, dan screenshot aplikasi. Gunakan juga beberapa tool berguna seperti app store optimization (ASO) yang membantu pelanggan menemukan produkmu di toko aplikasi.

Pelajari tips di atas ya, supaya kamu jadi developer yang lebih terampil dan pastinya, aplikasimu laris di pasaran. Kalau kamu yakin sudah jadi developer yang andal, yuk bergabung di talent marketplace EKRUT. Kamu punya banyak peluang kerja sebagai developer di perusahaan dan startup ternama di sana.

 

Rekomendasi bacaan:
Remote working bisa bikin kesepian
Tips sukses kuliah sambil kerja
4 perusahaan ini merintis kesuksesan dari garasi

 

Sumber:
techinasia.com
picodio.com
teknojurnal.com
 

Tags: aplikasi, coding, developer

Share Group 1 Group 3 Group 4
Bergabung dengan EKRUT

Bergabung dengan EKRUT dan dapatkan pekerjaan impianmu!
Daftar Sekarang