Technology

Google kembangkan aplikasi sensor berita untuk Tiongkok

Published on
Min read
3 min read
time-icon
Maria Yuniar

Experienced Content Editor with a demonstrated history of working in the information technology and services industry. Skilled in News Writing, Headline Writing, Breaking News, Editing, and Feature Writing. Strong media and communication professional with a Graduate focused in Applied English Linguistics from Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya.

censored-297442__340.png

Google membocorkan rencananya untuk kembali masuk ke pasar Tiongkok dengan mengembangkan aplikasi sensor berita. Aplikasi sensor ini dikembangkan raksasa teknologi tersebut dengan mengacu pada aturan yang diterapkan pemerintah Tiongkok.

Pengembangan aplikasi ini baru saja dimulai akhir tahun 2017 lalu. Setelah itu, Google mengadakan beberapa kali pertemuan dengan pemangku kebijakan di Tiongkok untuk mengembangkan aplikasi ini.

 

Dragonfly

The Intercept, seperti dilansir dari mashable.com, mendapatkan informasi dari orang dalam Google yang mengatakan bahwa Google berencana untuk melebarkan sayapnya kembali di Tiongkok, pasar Internet terbesar di dunia. Caranya, melalui pengembangan aplikasi mesin pencari yang ramah terhadap sensor. Aplikasi ini diberi kode “Dragonfly.”

Aplikasi berita untuk Tiongkok juga akan dibekali teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk menyajikan konten berita sesuai dengan preferensi pengguna. Aplikasi ini juga mulai dibanding-bandingkan dengan aplikasi pembaca berita populer yang sudah lebih ada dulu di Tiongkok, yakni Toutiao, yang saat ini memiliki 120 juta pengguna per hari.

 

Blokir keyword sensitif

Mesin pencari ini nantinya akan memblokir kata kunci yang sensitif, seperti demokrasi, hak asasi manusia, aksi damai, dan agama. Proyek Dragonfly ini diperkirakan akan selesai dan tersedia di Tiongkok paling lambat sekitar awal tahun 2019 mendatang.

Rencana Google untuk membuat aplikasi yang ramah sensor ini sebenarnya bukan tanpa alasan. Pada 2010, Google menarik mesin pencarinya dari Tiongkok karena tersandung masalah hukum yang berkaitan dengan undang-undang sensor dan pengawasan negara. Saat itu, Tiongkok yang dipimpin oleh Presiden Xi Jinping, memang membatasi ruang kebebasan berekspresi dan hak asasi manusia.

 

Kembalikan eksistensi di Tiongkok

Seiring perubahan kepemimpinan di Tiongkok dan naiknya Sundar Pichai sebagai CEO Google yang baru, Google pun optimistis mampu mengembalikan eksistensi Google di Tiongkok setelah berunding dengan pejabat setempat pada akhir 2017 lalu.

Meski tidak mengkonfirmasi kabar ini secara langsung, Google telah menyatakan sedang berusaha untuk merangkul pengembang aplikasi lokal. Tujuannya, untuk bertahan di pasar Tiongkok yang potensial.

Rencana Google untuk masuk ke pasar Tiongkok ini ternyata mendapat banyak hujatan. Bahkan dari para Googlers—sebutan untuk karyawan Google. Mereka mempermasalahkan cara Google yang tunduk pada aturan Tiongkok dengan menyensor kata-kata yang sensitif, mengingat selama ini Google menjunjung transparansi dan kebebasan berpendapat.

 

Sumber:
mashable.com
kompas.com
cnbcindonesia.com

0

Tags

Share

Apakah Kamu Sedang Mencari Pekerjaan?

    Already have an account? Login

    Artikel Terkait

    resesi-ekonomi---EKRUT.jpg

    Careers

    Pengertian Resesi Ekonomi beserta Penyebab, Dampak, dan Cara Mengatasinya

    Maria Tri Handayani

    11 November 2022
    5 min read
    H1_1._Massive_Online_Open_Course_(MOOC)_Belajar_ilmu_dari_universitas_top_dunia.jpg

    Lainnya

    Belajar Ilmu dari Universitas Top Dunia Dengan Metode MOOC

    Anisa Sekarningrum

    31 October 2022
    5 min read
    Sejarah_Revolusi_Industri_dan_Dampaknya_Bagi_Kehidupan_Manusia.png

    Lainnya

    Sejarah Revolusi Industri dan Dampaknya Bagi Kehidupan Manusia

    Sartika Nuralifah

    11 October 2022
    7 min read

    Video