Media

Manusia vs. Internet: Siapa yang salah?
By Widyanto Gunadi - 7 May 2018
55 Views
Ujaran kebencian dan komentar-komentar menyangkut suku, agama, dan ras (SARA) seringkali bertebaran di media sosial dan berbagai situs. Namun, pula Anda mungkin kerap tak menyadari bahwa komentar-komentar tersebut bukan berasal dari pengguna langsung, melainkan dari akun palsu yang diciptakan secara massal.
 

Ratusan pengguna Facebook terhubung akun palsu 

 
Pada akhir 2017, Facebook dan beberapa perusahaan teknologi lainnya menyatakan ada ratusan juta pengguna yang terhubung dengan akun-akun palsu. Propaganda pun terjadi. Banyak korban akun palsu di internet yang tersulut emosi dan berbalik menyerang pengguna Internet lain. Pada tahap ini, tujuan mereka untuk menyebarkan kebencian dapat dibilang berhasil.
 
Dilansir Wired, seorang jurnalis, Craig Silverman, mengatakan bahwa kemampuan pengguna Internet untuk merasakan sesuatu, mengevaluasi, dan memvalidasi informasi sangat ditantang dan seringkali terpengaruh oleh kabar bohong atau hoax.
 

Sabotase informasi berawal di sini

 
Propaganda komputasi yang menggambarkan kolaborasi antara manusia dan mesin untuk mempengaruhi masyarakat luas berawal dari Oxford Internet Institute di Balliol College, Oxford. Balliol College didirikan pada 1263 ketika Raja James I dari Aragon ingin menyabotase informasi penting dengan menyensor huruf-huruf Ibrani.

 

Informasi tersebut memuat alrogitme, otomatisasi, kemungkinan manusia memanipulasi persepsi, kognisi, dan perilaku. Dalam hal ini, kuncinya berada pada kemampuan manusia untuk memilah informasi.

 

Medsos untuk giring opini publik

 

Peneliti dari Oxford Internet Institute, Samantha Bradshaw, telah mendokumentasikan cara-cara yang dilakukan oleh 28 negara untuk membentuk opini masyarakat melalui media sosial. Biasanya opini ini dibentuk dengan mempelajari gaya dan kebiasaan aktivis asli dan pengguna Internet pada umumnya. Tujuannya, agar konten yang dibuat terlihat seolah-olah asli. Padahal tidak.

 

Pada bulan Maret, sebuah studi dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) menyatakan akun palsu masih memiliki kemampuan untuk memilah konten yang akan disebarluaskan. Sementara itu, manusia malah cenderung memilih untuk menyebarkan berita kebohongan, hanya semata-mata karena menyukai berita tersebut, maupu terkejut dengan berita itu.

 

Bagaimana cara mengatasinya?

 

Dengan demikian, tak ada cara lain untuk mengatasi masalah ini selain melewatinya. Tentu saja, propaganda harus dilawan. Namun, pada saat yang sama, kita harus menyadari, ternyta manusia mudah terpengaruh sensasi di dunia maya.
 

Rekomendasi bacaan:
5 cara optimalkan media sosial untuk pemasaran
AR dan mobile payment jadi pasangan serasi, mengapa demikian?
5 startup ini raih pendanaan terbesar

 

Sumber:

wired.com

Tags: hoax, Facebook, Internet

Share Group 1 Group 3 Group 4
Bergabung dengan EKRUT

Bergabung dengan EKRUT dan dapatkan pekerjaan impianmu!
Daftar Sekarang