Perusahaan pasti memberikan penilaian terhadap performa setiap karyawannya. Dari penilaian ini, perusahaan bisa melihat karyawan yang paling potensial dan produktif.
Selanjutnya, perusahaan biasanya ingin mengoptimalkan peran karyawan berprestasi. Namun pada akhirnya, para karyawan potensial ini justru memilih resign. Kenapa ya? Berikut ini alasannya.
Terlalu banyak tanggung jawab
Beban kerja yang terlalu banyak dan tidak masuk akal akan membuat karyawan tidak betah - EKRUT
Karyawan yang rajin bekerja, sangat mungkin akan dipercayakan tanggung jawab yang lebih dari manager mereka. Akan tetapi, jika tanggung jawab yang dibebankan pada mereka terlalu banyak, karyawan terbaik pun tetap akan berpikir untuk resign.
Berdasarkan riset dari Stanford, seseorang yang bekerja lebih dari 50 jam dalam seminggu, tingkat produktivitasnya justru menurun. Kamu tentu tak mau performa karyawan terbaik justru menjadi buruk akibat kelelahan bekerja, bukan?
Kontribusinya kurang diakui atasan
Karyawan yang tidak merasa dihargai akan mengalami penurunan motivasi - EKRUT
Karyawan terbaik biasanya juga memiliki motivasi kuat dari dalam diri mereka untuk berperforma maksimal. Namun, banyak manager menganggap remeh kekuatan pujian untuk performa baik karyawan.
Manager yang jarang memuji performa baik karyawan, akan dianggap kurang menghargai hasil kerja mereka. Hal ini dapat membuat mereka tak lagi nyaman bekerja, dan akhirnya memutuskan untuk resign.
Baca juga: Turnover Karyawan Meningkat? Ini 5 penyebabnya
Jenjang karier stagnan
Tidak ada ruang bagi perkembangan karier jadi alasan lain karyawan resign - EKRUT
Tak ada seorang karyawan yang ingin hidupnya hanya dihabiskan melakukan hal monoton selama beberapa tahun mendatang. Para karyawan ingin karier mereka terus berkembang.
Oleh sebab itu, jika perusahaan menjadi tak peduli, dan menelantarkan perkembangan karier karyawan terbaiknya, jangan heran bila suatu saat mereka resign. Karier yang stagnan justru membuat seorang karyawan akhirnya malas bekerja, dan produktivitasnya menurun.
Tidak dipercaya atasan
Kontrol atasan yang terlalu ketat bisa jadi penyebab karyawan terbaik resign - EKRUT
Hubungan profesional membutuhkan kepercayaan untuk dapat bertahan lama. Jika kamu adalah manager yang sering melakukan micromanagement pada karyawan, maka perlu berhati-hati.
Karyawan terbaik ingin mendapatkan kepercayaan, dan otonomi dalam melakukan pekerjaan mereka. Kontrol atasan yang terlalu ketat justru membuat seorang karyawan merasa kurang dipercaya, karena terus diawasi. Akibatnya, karyawan terbaik tak betah bekerja di perusahaan kamu dan akhirnya resign.
Merasa tidak mendapat kompensasi yang adil
Benefit yang dianggap tidak imbang akan membuat karyawan mencari perusahaan lain - EKRUT
Karyawan terbaik mengenal value mereka di perusahaan tersebut. Mereka merasa lebih percaya diri dalam kemampuan mereka untuk mendapatkan pekerjaan lain.Sehingga bila mereka merasa kompensasi yang diterima tidak adil, mereka pun akan cepat mencari pekerjaan baru di perusahaan lain.
Kompensasi di sini tidak selalu diartikan dalam bentuk gaji, namun juga bisa berupa benefit lain seperti jadwal kerja yang fleksibel hingga bonus cuti.
Baca juga: Pentingnya kesejahteraan karyawan bagi peningkatan kualitas pekerja
Hierarki perusahaan terlalu rumit
Hierarki yang terlalu rumit membuat karyawan kesulitan mendekati atasan - EKRUT
Sebuah perusahaan yang baik tentu perlu aturan. Itu sebabnya susunan hierarki dalam kantor pun kerap dibuat. Akan tetapi, jika hierarki tersebut justru dirasa terlalu rumit, karyawan terbaik juga bisa merasa kesulitan mendekati atasan mereka.
Padahal, kedekatan karyawan dengan atasan juga penting untuk membangun kepercayaan. Itu sebabnya hindari membuat struktur hierarki perusahaan yang terlalu rumit, ya!
Sebagai atasan, mungkin kamu kurang menyadari penyebab karyawan terbaik kamu mengundurkan diri. Nah, kamu bisa mencermati alasan-alasan di atas dan melakukan perbaikan agar para talenta berprestasi tetap setia di perusahaan.
Sumber:
- talentsmart.com
- inc.com
- linkedin.com