Media

Blockchain dan masa depan negara berkembang
By Maria Yuniar - 11 July 2018
4 min read 68 Views

Teknologi blockchain saat ini berkembang sangat pesat dalam skala global. Pelaku industri blockchain di Indonesia pun kini mulai bergeliat, sejalan dengan kemajuan ekonomi digital di Tanah Air. 

Chairman Asosiasi Blockchain Indonesia (ABI) Oscar Darmawan menyebut, teknologi blockchain adalah teknologi penyimpanan data yang bersifat multiserver atau terdiri dari banyak server. Dengan demikian, data akan lebih aman karena disimpan pada banyak server yang berkaitan satu sama lain.

 

Anti-retas

"Blockchain sampai saat ini tidak bisa di-hack (diretas) karena sangat strong (kuat). Multiserver, tapi saling verifikasi data, apabila ada satu server kena hack, server lainnya akan menyatakan itu tidak valid," kata Oscar seperti dilansir kompas.com.

Akan tetapi, apakah kehadiran teknologi blockchain akan mengganggu bisnis data center (pusat data) yang saat ini pemanfaatannya pun sudah sangat luas di Indonesia? Oscar menyatakan, teknologi blockchain tak berusaha menggantikan bisnis pusat data.

Tak gantikan bisnis pusat data

"Teknologi ini tidak berusaha menggantikan, tapi berusaha melengkapi teknologi yang ada," sebut Oscar. Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Jenderal ABI Steven Suhadi menuturkan, kehadiran teknologi blockchain bisa saja dipandang sebagai pelengkap maupun pendisrupsi teknologi pusat data yang sudah ada. 

Steven menyebut, hal ini tergantung pada cara pandang pelaku industri. "Keduanya, bisa mengganggu dan melengkapi," ucap Steven.

Chief Scientist CyberMiles, Dr Michael Yuan, seperti dilansir dailysocial.id menjelaskan, blockchain sangat potensial digunakan untuk industri e-commerce. Salah satu manfaat terbesarnya ada pada keamanan yang lebih baik, kolaborasi yang lebih mudah dan kelebihan-kelebihan lain terkait dengan sistem desentralisasi. 

 

Efisien berkat desentralisasi

Untuk keamanan, sistem desentralisasi dinilai menjadi sangat efisien karena cyber attacker akan kesulitan melumpuhkan sistem blockchain yang berbentuk jaringan. Setidaknya lebih sulit dibanding harus melumpuhkan satu server tunggal yang tersentralisasi.

Yuan menjelaskan, blockchain juga membawa efisiensi dan keuntungan seperti memudahkan manajemen identitas serta membantu mewujudkan sistem pelacakan dan keaslian produk karena semua bisa disimpan di dalam blockchain dan disinkronkan ke semua jaringan blockchain. Solusi-solusi tersebut dinilai bisa merevolusi kembali bisnis dan teknologi e-commerce.

Sementara itu Expert Blockchain Nxt Foundation, Roberto Capodieci, memaparkan bahwa blockchain akan membawa masa depan karena transparansi dan pengurangan biaya yang cukup signifikan.

“Blockchain akan menghasilkan peningkatan substansial dalam transparansi, kecepatan, dan fungsionalitas serta mengurangi biaya pengelolaan catatan pribadi dan publik,” terang Roberto.

Blockchain dengan sistem desentralisasinya merupakan sebuah teknologi yang ideal untuk menggantikan teknologi-teknologi yang sekarang ini ada. CEO Decent, Matej Michalko, misalnya, memaparkan bahwa blockchain berpotensi menjadi landasan membangun platform distribusi konten.

 

Bantu kreator

Pembajakan dan kesulitan distribusi bisa diselesaikan dengan sistem blockchain yang menandai konten-konten yang ada. Diharapkan dengan sistem blockhain para kreator dengan mudah menjual dan mendistribusikan konten. Para penikmat konten diharakan bisa dengan mudah mencari dan membeli konten-konten yang ada.

Adapun MiCai, yang diperkenalkan langsung oleh CEO Gregory Van den Bergh, mengembangkan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk private wealth management protocol yang dibangun dengan sistem blockchain.

Solusi lainnya diperkenalkan Datum, sebuah startup yang menyediakan global data exchange untuk mengubah data menjadi komoditas yang bisa diperjualbelikan. Ada juga startup asal Singapura, Eximchain, yang mengenalkan teknologi blockchain untuk membantu merombak sistem supply chain dengan blockchain.

 

Rekomendasi bacaan:
Dalam 2 tahun, Pokemon Go raih Rp 25,8 triliun
Berangus berita palsu, startup Israel ini gandeng tentara
Founder Xiaomi ternyata awalnya seorang programmer

 

Sumber:
kompas.com
dailysocial.id

Tags: cryptocurrency, Bitcoin, e-commerce, startup, teknologi, blockchain

Share Group 1 Group 3 Group 4
Bergabung dengan EKRUT

Bergabung dengan EKRUT dan dapatkan pekerjaan impianmu!
Daftar Sekarang